JAKARTA - Sejak hadirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SLB Negeri Laura, Sumba Barat Daya, suasana kelas menjadi lebih tenang.
Anak-anak berkebutuhan khusus, terutama siswa Down Syndrome, kini lebih mampu mengendalikan diri dan fokus mengikuti pelajaran. Aktivitas belajar berlangsung lebih lama tanpa gangguan mood yang sering muncul sebelumnya.
Dampak MBG Terhadap Konsentrasi Siswa
Kepala SLB Negeri Laura, Maria Dolorosa Mada, menjelaskan perubahan signifikan pada siswa. Sebelumnya, mood anak-anak sering berubah-ubah sehingga mengganggu konsentrasi belajar. Dengan asupan makan bergizi yang cukup, energi dan fokus mereka meningkat, membuat proses belajar menjadi lebih efektif dan menyenangkan.
Sekolah ini melayani 68 siswa dengan beragam kelas ketunaan, mulai dari tuna rungu wicara, tuna daksa, autis, grahita, Down Syndrome, hingga lambat belajar. Sekitar 40 siswa tinggal di asrama, sebagian besar berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah.
Banyak orang tua harus menanggung biaya transportasi dan kebutuhan sekolah dengan keterbatasan ekonomi, sehingga bantuan MBG menjadi sangat berarti.
MBG Ringankan Beban Siswa Asrama
Program MBG memberikan dampak langsung bagi siswa yang tinggal di asrama. Dengan makan siang terpenuhi, siswa tidak lagi harus mengandalkan makanan malam saja. Beban konsumsi harian menjadi lebih ringan, dan anak-anak tampak lebih bersemangat serta ceria. “Setelah ada MBG ini mukanya cerah sekali anak-anak saya,” ujar Maria.
Selain dampak fisik, MBG juga berpengaruh terhadap suasana hati siswa. Ketika asupan gizi tercukupi, ledakan emosi berkurang dan anak-anak mampu menahan diri lebih lama di kelas. Hal ini meningkatkan kualitas interaksi dengan guru dan teman sebaya, serta mendukung proses belajar yang lebih optimal.
Tantangan dan Perubahan di SLB Negeri Laura
Maria mengaku tantangan memimpin sekolah ini sejak 2019 cukup besar. Keterbatasan fasilitas dan dana membuat penyediaan kebutuhan harian siswa sulit terpenuhi. Namun, kehadiran MBG menjadi titik balik yang mengubah duka menjadi suka, sekaligus memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar dengan lebih utuh.
Program MBG juga memperkuat peran sekolah sebagai ruang pengasuhan sekaligus pendidikan. Selain belajar akademik, anak-anak mendapatkan perhatian pada kebutuhan dasar mereka. Kombinasi pendidikan dan asupan bergizi memungkinkan siswa mengalami perkembangan secara fisik, mental, dan emosional yang seimbang.
MBG sebagai Investasi Pendidikan dan Kesejahteraan
Keberhasilan MBG di SLB Negeri Laura menunjukkan bahwa makanan bergizi lebih dari sekadar pemenuhan energi. Program ini menstabilkan emosi, meningkatkan fokus, dan memperbaiki kualitas interaksi sosial siswa. Dampaknya dirasakan oleh guru, orang tua, dan seluruh lingkungan sekolah sebagai bentuk investasi pendidikan dan kesejahteraan anak difabel.
Kini, Maria menyaksikan sendiri bagaimana seporsi makan siang bergizi mampu mengubah suasana kelas. Anak-anak lebih tenang, tersenyum lebih lama, dan mampu menyerap pelajaran dengan lebih baik. MBG telah menjadi jembatan penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan sehari-hari anak-anak difabel di Sumba Barat Daya.
Program ini menjadi contoh nyata bahwa intervensi sederhana berupa makanan bergizi dapat membawa perubahan besar. Selain memenuhi kebutuhan fisik, MBG menumbuhkan semangat belajar dan rasa percaya diri bagi siswa Down Syndrome dan anak berkebutuhan khusus lainnya. Sekolah pun menjadi tempat belajar yang lebih nyaman, aman, dan penuh keceriaan.
Dengan keberlanjutan MBG, SLB Negeri Laura berharap semua siswa dapat menikmati pendidikan yang berkualitas. Anak-anak tidak hanya kenyang secara fisik, tetapi juga merasa diperhatikan dan didukung. Dampak jangka panjangnya terlihat dari semangat belajar yang meningkat dan perkembangan personal yang lebih optimal.